Kebijakan Tidak Masuk Akal Mengharamkan Game PUBG

Kebijakan Tidak Masuk Akal Mengharamkan Game PUBG. Saat ini di sosial media sedang hangat membicarakan tentang wacana MUI yang akan mengharamkan game PUBG. Tak hanya itu, pihak Kominfo pun menyatakan bersedia memblokir game tersebut jika memang sudah dinyatakan haram oleh MUI.

Wacana untuk mengharamkan game PUBG sendiri muncul setelah tragedi berdarah di Selandia Baru ketika 41 muslim dibunuh secara keji saat akan melaksanakan sholat Jum’at. Kejadian tersebut memang mengundang perhatian dunia. Banyak yang bersimpati, menguntuk aksi teror tersebut, atau memberikan bantuan kepada korban, termasuk dari Indonesia sendiri. Hal tersebut wajar karena Indonesia merupakan negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia.

Namun wacana mengharamkan game PUBG menurut saya merupaan kebijakan paling tidak masuk akal yang pernah diberlakukan oleh MUI. Game PUBG sendiri memang mengandung konten kekerasan, dimana kita “diharuskan” mengeliminasi pemain lain untuk menjadi the last standing man/team. Namun, jika hal tersebut dijadikan acuan bahwa game ini mengajarkan tindakan terorisme, saya rasa samasekali tidak tepat.

Baca juga:

PUBG menjadi game populer yang banyak dimainkan di Steam, dibawah Dota 2. Demikian juga untuk PUBG Mobile, yang secara kasat mata pun kita tau game ini memiliki banyak sekali pemain. Hampir setiap malam minggu saya ngopi di warkop orang orang disana menggunakan smartphone mereka untuk memainkan game ini.

Lalu dengan jutaan player PUBG di Indonesia saat ini, apakah pertumbuhan kasus terorisme juga meningkat? Saya pikir malah tidak ada. Jadi jika MUI mengharamkan sebuah game karena dianggap mengajarkan aksi terorisme, saya rasa kebijakan tersebut perlu dikaji ulang.

Memang harus diakui, ekosistem game online di Indonesia memang sangat toxic. Ngomong kasar di chat menjadi hal yang sering saya temui ketika bertemu sesama player Indonesia. Itulah kenapa saya sering mematikan voice chat di ingame, jika memang harus bermain sendirian dan bertemu dengan player random. Hal tersebut lagi lagi saya maklumi, karena game online khususnya game mobile di Indonesia memang didominasi oleh pemilik device kentang, dengan koneksi alakadarnya. Makanya sering ada yang afk atau rto di game, ya karena koneksi yang benar-benar ampas. Belum lagi mereka kadang main game dengan speaker, tanpa headset. Itu yang sering saya temui di warkop, jadi suara dari luar bakal masuk game semua.

Dan memang ada pernah saya baca di berita, dua pemuda berantem sampai masuk kantor polisi karena game online. Tapi saya pikir kejadian kejadian seperti itu juga tidak bisa dikaitan dengan terorisme. Di negara maju, kebijakan yang diberlakukan setelah adanya aksi terorisme di Selandia Baru adalah dengan meneliti ulang peredaran senjata api di masyarakat negara tersebut. Dan saya pikir Indonesia hanya akan menjadi tertawaan negara luar jika sampai menyalahkan sebuah game karena aksi terorisme di dunia nyata.

Intinya, saya sendiri tidak setuju dengan wacana mengharamkan game PUBG karena dikaitkan dengan terorisme. Apalagi jika wacana ini sampai ditindaklanjuti yang berujung pemblokiran game ini oleh Kominfo. Saya pikir masyarakat luas pun lebih banyak yang tidak setuju dengan wacana tersebut. Semoga saja kebijakan konyol ini tidak benar benar terealisasi.

Shares

Leave a Reply