Kurangnya Kemampuan Masyarakat Indonesia dalam Membaca Informasi

Kurangnya Kemampuan Masyarakat Indonesia dalam Membaca Informasi. Ini adalah lanjutan dari artikel saya kemarin tentang netizen norak. Ngomongin masalah netizen di Indonesia memang gak ada habisnya. Kali ini yang akan saya bahas adalah kurangnya kemampuan mereka untuk membaca informasi.

Sebelum masuk ke pembahasan, saya mau share foto penyegar dulu…

Oke balik lagi ke topik. Netizen di Indonesia ini sering banget menanyakan sesuatu yang sudah ada atau tertulis dengan jelas. Ambil contoh, saya pernah menemukan fanspage di Facebook yangmana admin di fanspage tersebut sedang membuka lowongan pekerjaan. Disana sudah tertulis jelas, apa syarat yang harus dipersiapkan, kemana lamaran tersebut harus dikirim, kontak mana yang harus dihubungi, dll. Semuanya sudah jelas. Dan yang saya temukan di kolom komentar hampir seluruhnya menanyakan.

  • Gimana cara daftarnya?
  • Saya minat, ini cv nya dikirim kemana?
  • Ada nomor WA gan gan?

Dan pertanyaan pertanyaan goblok lainnya. Dari situ saya langsung gak heran kalo banyak yang ngeluh cari kerja susah. Ya kualitasnya aja begitu gimana mau dapet kerja. Mereka yang nyari karyawan baru juga pasti ngelihatnya dari kesan pertama. Kalo dilihat kesan pertamanya aja gak meyakinkan ya gabakal diterima dong. Tapi ya tetep aja ujung-ujungnya nyalahkan pemerintah.

Dan sebenernya ketidakmampuan netizen Indonesia untuk membaca informasi ini memang merambah ke semua kalangan. Kemarin saya posting di fanspage tentang preorder kaos komunitas IT. Ya, targetnya anak IT, yang harusnya bisa baca dong. DIsana sudah ditulis jelas, preorder sampai kapan, harga berapa, cara ordernya dengan mengisi form (yang juga saya cantumkan link formulirnya), pokoknya sudah lengkap. Ternyata di kolom komentar pun masih banyak yang nanya “harga berapa”, “ini batas waktunya kapan”, dan pertanyaan gak penting lainnya.

Baca juga:

Di grup tentang anime pun sama. Ada akun yang post screenshot anime, di caption sudah dikasih tau nama karakter atau judul animenya, tetep aja di kolom komentar banyak yang nanya “what anime?”. Pantes wibu dicap goblok goblok. Ya model macam mereka ini memang gak punya otak.

Karena Kebiasaan

Ngomongin masalah ketidakmampuan membaca informasi sebenarnya bukan karena netizen yang tidak bisa membaca. Tapi lebih ke karena kebiasaan. Memang kebiasaan ada apa apa nanya dulu, cari info sih belakangan. Hal seperti inilah yang akhirnya membuat ekosistem media sosial di Indonesia menjadi buruk. Isinya berita atau postingan hoax. Ya karena mereka tidak maumencari informasi tentang kebenaran dari artikel yang mereka baca. Lah kadang baru baca judul saja langsung ngegas di komentar, padahal ya kita tau sendiri judul dari berita di media mainstream rata-rata sedikit clickbait.

Gak heran sih sebenarnya, memang kualitasnya seperti itu. Wong ada yang posting gambar cewek setengah telanjang dikasih caption “ketik 12 jika ingin handuknya jatuh. jangan kaget ya”, yang komentar angka 12 bisa sampe puluhan ribu. Ya begitulah mayoritas netizen di Indonesia.

Yang terbaru kemarin, gara-gara kurangnya “kemampuan membaca informasi” juga menyebabkan “rusak”-nya rating salahsatu aplikasi di Playstore. Aplikasi bernama Gopay yang sebenarnya diperuntukkan untuk pembayaran di Polandia, diberondong rating bintang satu dengan komplain senada dari netizen barbar “bahasanya aneh. ganti dong”.  Dikiranya Gopay yang milik Gojek, padahal sudah jelas di deskripsi aplikasi tersebut diperuntukkan bagi siapa. Bikin malu kan akhirnya?

kalo dibilang minat baca masyarakat yang sedang menurun juga enggak sebenarnya. Memang dari dulu minat baca dari masyarakat Indonesia ini rendah. Dan rendahnya minat baca membuat kurangnya kemampuan untuk menemukan informasi.

Hal-hal seperti ini terjadi karena kebiasaan. Dan kebiasan buruk seperti ini harus diubah.Tidak bisa spontan memang, harus pelan pelan. Jadi mulai sekarang, biasakan untuk membaca sesuatu secara detail sebelum bertanya. Entah itu postingan di sosiel media, atau brosur yang kebetulan kalian dapatkan dari mbak mbak sales di pinggir jalan sekalipun.

 

Shares

One Response

Leave a Reply